Menyajikan Informasi dan Inspirasi


  • News

    Tuesday, March 22, 2016

    Mau Menulis Atau Pengen Jadi Penulis? Kenalan Dulu Sama Salim A. Fillah

    Sebenarnya banyak sekali para Aktivis Dakwah Kampus (ADK) yang memiliki buku –buku keren, bahkan menjadi langganan para remaja karena isinya yang meneduhkan hati, akankah kita akan menyusul setelah mereka dengan buku –buku yang tidak kalah mencerdaskan?

    Kenal Salim A. Fillah? Tentu dong, penulis yang buku–bukunya banyak diterbitkan oleh Penerbit Pro-U Media ini merupakan penulis dengan kategori best-seller. Buku-bukunya seperti: Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan, Agar Bidadari Cemburu Padamu, Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim, Jalan Cinta Para Pejuang, dan yang terbaru Dalam Dekapan Ukhuwah.

    Dan inilah hasil wawancara tim buletin MINHAJ dengan beliau, sewaktu Lembaga Dakwah Kampus Majelis kajian mahasiswa islam (LDK MKMI) Universitas Trunojoyo Madura mengadakan acara B-Ten (Be The Exellent Generation), yakni Bedah Buku “Agar Bidadari Cemburu Padamu” di Universitas Trunojoyo Madura pada tanggal 2 Oktober 2011 kemarin, berikut kutipan wawancaranya :

    Sebenarnya apa motivasi ketika kita tidak bisa menulis?

    Motivasi besar bagi seorang penulis ya.. belajar menulis dan berani mencoba. Pernah baca kisah seorang tokoh, dia mengalami cacat sejak kecil, tetapi dirinya memiliki semangat yang besar untuk menulis. Dia membeli buku terbaik yang ada di tempat dia hidup yang diterbitkan oleh penerbit yang buku–bukunya jadi rujukan ilmuwan. Tokoh itu lalu membawa buku itu sebagai teman tidurnya. Dia sekaligus membeli kamus buat mencari kata yang tidak dimengerti di dalam buku yang dia beli. Kata–kata sulit itu dia tulis lalu dia bandingkan dan dicari persamaan kata dan lawan katanya. Merasa buku itu begitu indah dan susunan katanya menarik. Dia mencoba membuat daftar untuk mencatat kata–kata itu, lalu mencari kata yang sama atau menambahkan untuk menghasilkan kata atau kalimat yang menarik, dia corat–coret kata yang sulit di buku itu. Akhirnya dia berani untuk menciptakan buku baru. Di mana ide–idenya berasal dari buku itu, bahkan dia harus merevisi sampai 6 kali lebih buku yang dia tulis demi menyempurnakan ide –ide besar di buku itu. Akhirnya dengan tekad bulat dia menerbitkan buku itu setelah 7 kali lebih merevisinya, akhirnya penulis dari buku yang dia tulis memujinya bahwa karyanya lebih baik dari yang diciptakan sendiri oleh dirinya.

    Apa pentingnya berdakwah dengan tulisan seperti menjadi penulis?

    Menulis itu penting, tetapi yang lebih penting dari tujuan kita menulis. Seandainya, saya memiliki tingkat produktivitas yang lain di luar menulis untuk berdakwah, maka menulis itu akan saya tinggalkan, tetapi karena saya memiliki minat dan mecintai dunia tulis menulis, makanya saya berdakwah dengan tulisan lewat buku –buku yang saya buat sebagai perekat ukhuwah sesama umat muslim.

    Bagaimana memotivasi kader dakwah supaya mencintai dunia tulis menulis?

    Tanamkan dalam diri mereka bahwa menulis itu penting. Buatlah bulletin dan media yang  menfasilitasi mereka agar mencintai dunia tulis menulis, sudah banyak aktivis dakwah yang karya –karyanya mampu menjadi rujukan umat beragama. Iman syafi’I dengan kitab al-ummnya. Dengan menulis maka mereka bisa menuangkan ide-ide cerdas mereka ke dalam tulisan demi menciptakan pola pemikiran yang baik dalam hal dunia tulis menulis.

    Benarkah bahwa menulis buku itu rumit?

    Menulis buku itu tidak sulit, coba menulis kerangka terlebih dahulu, di dalam kerangka itu kita bisa menulis sesuai dengan subjudul yang ada. Sehingga tulisan kita tidak terbawa arus kemana –mana, kalau ide di bab pertama buntu, kita pindah ke bab 2 atau 6. Ketika menggarap bab 6 kita juga buntu, maka kembali lagi ke bab 2. Kerangka yang baik menjadi petunjuk dari buku yang dibuat. Di dalam buku kita bisa menulis kisah –kisah para nabi atau tokoh –tokoh berpengaruh di dunia, atau kita juga membutuhkan features dan atsar –atsar agar tulisan lebih indah dibaca.

    Menurut bapak apa yang seharusnya dilakukan oleh aktivis dakwah kampus agar berbeda dengan dengan aktivis lain?

    Pertama. Seorang aktivis dakwah kampus harus memiliki visi yang jelas, yaitu untuk berdakwah bukan melakukan sesuatu diluar tujuan itu. Visi yang jelas akan menciptakan keteguhan, kalaupun anda bukan seorang da’i maupun penguasa tetapi kalau visi itu jelas, jadi direktur suatu perusahaan pun maka itu akan berdampak baik. Misi yang anda tempuh yaitu untuk mengajak orang lain supaya melakukan kebaikan. Dakwah yang baik menjadi awal yang baik buat orang lain dan diri kita sendiri.(masakanak.wordpress.com)

    No comments:

    Post a Comment