Menyajikan Informasi dan Inspirasi


  • News

    Wednesday, September 13, 2017

    Muhammad Zia-ul Haq, Sosok Pemimpin Shalih Pembela Islam


    Dalam ceramahnya yang telah dibukukan, syaikh Abdullah Azzam rahimahullah pernah memuji salah satu pemimpin negara. Syaikh mengatakan bahwa kedua matanya tidak pernah melihat seorang pemimpin negara yang lebih utama dari pemimpin satu ini. Syaikh juga mengatakan bahwa dirinya belum pernah melihat seorang sosok pemimpin yang berbicara dengan hatinya atau saat ia menjawab (pertanyaan) dengan tetesan air matanya.

    Seorang pemimpin yang mampu berbicara di depan khalayak ramai dari dasar kalbunya. Ia seolah seorang khotib yang sedang berkhotbah di masjid. Pemimpin ini berkhotbah (dengan demikian bebasnya) padahal kalau kita melihat para khotib masjid, mereka sangat berhati-hati dan penuh perhitungan dalam menyampaikan khotbah.

    Di layar televisi yang dipancarluaskan ke seluruh dunia, ia berbicara, “Saya bertemu dengan duta Rusia, lalu saya katakan padanya, ‘Kalian telah menembus angkasa dengan pesawat-pesawat luar angkasa dan satelit-satelit kalian, namun tampaknya kalian tidak belajar pada sejarah.’

    Mereka bertanya, ‘Apa maksud Anda.’ Ia  menjawab, ‘Andai kalian belajar  dari sejarah, kalian pasti tidak akan masuk ke Afghanistan. Apakah kalian tidak tahu bahwa bangsa Afghan telah mengalahkan bangsa-bangsa yang masuk negeri mereka’.”

    Siapakah dia hingga syaikh Abdullah Azzam menyanjungnya? Dia adalah presiden Pakistan ke-6 sekaligus presiden yang menduduki jabatan terlama sekitar 11 tahun, yaitu Muhammad Zia-ul Haq.

    Media-media mainstream sering menyudutkan Zia dalam pemberitaan selama ini. Entah dalam penulisan biografi atau kebijakan politiknya yang dinilai diktator dan bertangan besi. Padahal Zia hanya berusaha mengembalikan Pakistan sebagai negara Islam yang merupakan warisan perjuangan dari Muhammad Ali Jinnah. Karena Muhammad Ali Jinnah memisahkan diri dari India bertujuan untuk mendirikan negara Islam Pakistan.

    Mengenal Muhammad Zia-ul Haq

    Presiden ke-6 Pakistan ini lahir di Jalandhar Pakistan pada tanggal 12 Agustus 1924. Ia merupakan putra sulung dari Muhammad Akbar, seorang guru di sekolah Militer British. Setelah menyelesaikan Sekolah Tingkat Atas (STA) di Shimla, melanjutkan pendidikan B.A Honors di St. Stephen College Delhi. Ia pernah menjabat sebagai perwira di angkatan tentara Inggris pada tahun 1943 dan bertugas di Burma, Malaya dan juga di Indonesia ketika perang dunia ke 2 berlangsung.

    Dikabarkan Zia memiliki peran yang besar dan harus diketahui oleh masyarakat Indonesia. Ketika pasukan Inggris yang sedang bertempur bersama pejuang-pejuang Indonesia dalam rangka mempertahankan kemerdekaannya di Surabaya, ada beberapa pasukan dari Pakistan dan juga India (Gurkha) yang didatangkan oleh tentara inggris. Salah satu pasukan Pakistan yang ikut dalam misi tersebut adalah Jendral Zia-ul Haq. Tentara tentara Pakistan mulai terketuk hatinya ketika melihat banyak musuh-musuh yang di hadapi adalah saudara-saudara mereka seiman dan mereka menyautkan takbir, bahkan mereka membelot dari pasukan Inggris dan membantu rakyat-rakyat Surabaya dalam memerangi Inggris.

    Ketika perang Dunia ke 2 selesai,  ia bergabung dengan angkatan darat Pakistan pada masa perjuangan Pakistan merebut kemerdekaan dari Inggris. Sebagai Mayor ia mendapat kesempatan untuk melakukan pelatihan di Komandan Sekolah Staf di Amerika Serikat pada  tahun1963-1964. Selama perang pada tahun 1965, ia bertindak sebagai Asisten Quartermaster 101 divisi infantri yang mana ia berada di sektor Kiran, kemudian pada tahun  1967 sampai 1970 diposkan di Jordania dan bergabung dengan pelatihan militer Jordan, kemudian ditetapkan sebagai Komandan Kesatuan di Multan  pada tahun 1975.

    Pada tanggal 1 April 1976, secara mengejutkan Perdana Menteri Pakistan, Zulfikar Ali Bhutto, menunjuk Jenderal Zia-ul Haq menjadi kepala tentara Pakistan menggantikan 5 Jendral atasannya. Keputusan Bhutto seakan menunjukkan keinginannya untuk menjadikan seorang kepala angkatan perang, yang tidak akan bisa mengancam kedudukannya pada waktu  itu.

    Tapi bagaimanapun juga, sejarah membuktikan bahwa Zia-ul Haq memiliki pemikiran yang lebih cemerlang dibandingkan dengan Perdana Menteri Zulfiqar Ali Bhutto. Saat itu suasana perpolitikan di Pakistan semakin memanas, dan memuncak ketika terjadi kebuntuan antara Bhutto dan kepemimpinan Aliansi Nasional  Pakistan pada masalah pemilihan umum.

    Selain itu pamor Ali Bhutto menurun setelah terjadinya berbagai kasus korupsi, pelanggaran HAM dan memaksakan kebijakan yang berhaluan sosialis dimana notebene Pakistan adalah negara Islam. Pada saat itulah Zia-ul Haq mengambil sebuah kesempatan, maka pada tanggal 5 Juli 1977, ia melakukan kudeta tak berdarah menggulingkan pemerintahan Bhutto dan menegakkan Militer Darurat di negeri Ali Jinnah ini.

    Alasan lain kudeta itu dilakukan adalah karena tindakan pengkhianatan dari Ali Bhutto. Ia berkhianat dengan usahanya  membawa Pakistan ke arah negara sekuler, dan mengingkari sejarah Pakistan yang berspisah dengan India, karena faktor agama. Berbeda dengan anggapan media-media sekuler bahwa Zia melakukan kudeta berdarah dan ilegal, justru apa yang dilakukan Zia adalah upaya penyelamatan dari pengkhianatan.

    Setelah penggulingannya, sebenarnya Ali Bhutto sempat masuk kembali ke dunia politik. Namun, karena Ali Bhutto terjerat dalam kasus pembunuhan (Ali didakwa mendalangi pembunuhan lawan politiknya) maka secara tegas vonis hukuman mati diberikan pada Maret 1978. Eksekusi hukuman mati dilakukan setahun kemudian pada tanggal 4 April 1979. Kasus inilah yang sering dijadikan media sekuler untuk menjatuhkan nama Zia. Media mendiskreditkan Zia sebagai pelaku kudeta berdarah, padahal hukuman gantung yang diijatuhkan kepada Ali Bhutto karena kasus yang lain.


    Penataan Ulang Pakistan Menjadi Negeri Islam

    Hal pertama kali yang dilakukan Zia adalah mengadakan pemilihan umum  dalam 90 hari ke depan dan menyerahkan kekuasaannya kepada wakil rakyat.Akan tetapi, pada bulan Oktober 1977, ia mengumumkan penundaan pada rencana Pemilihan Umum. Dalam sebuah pernyataan, ia mengatakan

    bahwa, keputusan ini berubah karena adanya tuntutan yang sangat kuat dari masyarakat, untuk mengawasi pemimpin-pemimpin politik yang terlibat dalam penyelewengan pada masa  sebelumnya.

    Zia memulai islamisasi pemerintahan Pakistan dengan mengganti sistem parlemen dengan sisten Majelis Syura. Hampir seluruh anggota dewan Syura yang berada di bawah kepemimpinan Zia adalah para intelektual tinggi, cendikiawan, ulama dan jurnalis yang profesional. Majelis Dewan Syura ini bertindak sebagai Penasehat Presiden, yang mana sekitar 284 anggotanya diajukan langsung oleh presiden, sehingga tidak ada tempat lagi untuk menduduki dewan ini.

    Pada tahun 1980, Zia menepati janjinya dengan menggelar pemilihan umum. Referendum pemilihan umum telah disebarkan di berbagai daerah di Pakistan, guna memilih siapa yang berhak menjadi pemimpin negara kedepannya. Dengan adanya referendum ini, hampir 98% mendukung Zia untuk tetap menjadi presiden Pakistan.

    Berbagai kebijakan telah dilakukan Zia dan mendapat dukungan penuh dari rakyat Pakistan. Mayoritas rakyat Pakistan mendukung islamisasi Pakistan  yang meliputi hukum, ekonomi, pendidikan dan kebudayaan. Kebijakan-kebijakan ini mendapat kritikan dan penolakan dari kaum sekuler, minoritas dan liberal. Dan justru mendapat dukungan penuh dari partai Islam,seperti Jamaat e Islami.

    Pemerintahan Zia menggalakkan pendidikan Islam, menghapus riba bank dengan menerapkan sistem bagi hasil dan menetapkan kewajiban zakat mal 2,5% bagi yang telah memenuhi nishab dan haul. Dari ranah hukum, Zia berupaya menerapkan hukum hudud dengan jenis hukuman seperti rajam, cambuk dan amputasi yang masuk ke dalam aturan sipil. Hingga aturan menjaga shalat masyarakat serta penyediaan mushala bagi pekerja.

    Dukungan Penuh Pada Mujahidin

    Ketika Uni Soviet melakukan invasi militer ke Afghanistan pada tahun 1980, Zia menjadi penyangga perlawanan Afghanistan membendung auman Beruang Merah. Zia menjadi donatur, perantara sekaligus pelaksana bantuan bagi Afghanistan untuk melawan komunis Uni Soviet.

    Selain itu, Zia juga memobilisasi para mujahidin, dukungan intelijen dan mendistribusikan bekal persenjataan bagi para pejuang Islam. Bahkan saat itu, Pakistan menampung lebih dari 3 juta pengungsi dari Afghanistan. Bisa dibilang bahwa saat itu Pakistan menjadi pusat konsolidasi bagi para mujahidin yang akan berjuang ke Afghanistan. Zia yang merupakan seorang jenderal turut menyusun strategi perang melawan Soviet.

    Bukan hanya itu, Zia juga mengkampanyekan perjuangan melawan Soviet kepada seluruh para pemimpin Dunia Islam. Zia melakukan hubungan dengan tokoh gerakan Islam, bertujuan memobilisasi para mujahidin dari seluruh dunia, dan usaha itu berhasil.  Para mujahidin dari negara-negara Arab, Afrika, Asia, Chechnya, dan bahkan dari negara Eropa dan Amerika. Mereka semua bersatu di bawah panji Islam, berjihad melawan Soviet.

    Peperangan yang berlangsung selama lebih dari satu dekade itu dimenangkan oleh para mujahidin atas izin Allah. Pasukan komunis hengkang meninggalkan Afghanistan di tahun 1989. Kemenangan ini mempunyai pengaruh yang luas bagi kebangkitan Islam di seluruh dunia. Tumbuhnya jihad di Bosnia, Chechnya,  di negara-negara Arab, Afrika, dan Asia dalam rangka menghapus segala bentuk penjajahan Barat sampai hari ini, semua bermula dari kemenangan  jihad yang berlangsung di Afghanistan.

    Sikap Mulia Zia-ul Haq

    Dr Abdullah Azzam menuturkan dalam Tarbiyah Jihadiyah bahwa Zia adalah seorang pemimpin yang mulia. Di saat para pemimpin Islam lainnya takut bersuara dan mempermasalahkan jihad di Afghanistan, Zia berdiri tegak membela dan dengan berani mencela Rusia sebagai perusak kedamaian yang ada.

    Saat itu, salah seorang penguasa Arab yang menjadi utusan OKI mengatakan kepada Zia, “Kami harap Anda sudi menandatangani. Kami ingin menghentikan perang dan kami ingin segera memecahkan persoalan Palestina.”

    Zia-ul Haq menjawab, “Apakah Anda berpikir bahwa jihad di Afghanistan hanyalah beberapa tembakan peluru di daerah perbatasan? Atau seseorang meletakkan sebuah ranjau dan kemudian lari? Ketahuilah bahwa dari data statistik yang berhasil direkam satelit pemerintah Pakistan, pesawatpesawat tempur yang hancur dan rontok selama peperangan sampai permulaan tahun 1988 sebanyak 2080 buah.” Mendengar penuturan Zia-ul Haq, si penguasa Arab ini hanya bisa berseru, “Ha” dan “Ha” saja.

    “Dengarlah,” kata Zia-ul Haq melanjutkan, “Tank-tank Rusia yang berhasil dihancurkan sebanyak 17.000 buah dan kendaraan-kendaraan pengangkutnya sebanyak 11.000 buah.” Utusan itu semakin ternganga mulutnya dan berkata, “Demi Allah, saya tidak tahu kalau demikian keadaannya.” Ia pikir Mujahidin hanya memasang dua ranjau saja untuk menghadang tank-tank Rusia. Selesai persoalan, kemudian lari ke Afghanistan. Ia tidak tahu bahwa Rusia tidak mampu keluar sejak masuk ke Afghanistan. Mereka terperangkap di Afghanistan selama sembilan tahun.

    Akhirnya si penguasa ini kembali dan mengatakan kepada rekan-rekannya, “Saudara-saudara sekalian, saya telah mendengar dari penuturan Zia-ul Haq sesuatu yang sangat menakjubkan. Ia mengatakan begini dan begini. Tapi, solusi yang disepakati dalam konferensi internasional harus kita pegang agar kita bisa segera memecahkan persoalan Palestina. Jika kita berhasil, mereka akan mengembalikan Masjidil Aqsha dan menghentikan peperangan di kawasan teluk yang telah menelan banyak korban.”

    Kemudian mereka mengadakan sebuah konferensi perdamaian di kota Karachi. Kaum Muslimin dan para dai datang dalam konferensi itu. Mereka memuji Gorbachev dan Rusia karena cinta perdamaian dan mau menarik pasukannya dari Afghanistan. Dalam kesempatan itu, Zia-ul Haq turut hadir memberikan sambutan. Tatkala bicara, ia lupa bahwa dirinya adalah seorang pemimpin negara dan seluruh dunia memperhitungkan kata-katanya. Ia seolah dai yang sedang berkhutbah di atas mimbar.

    Dia berkata, “Saya tidak tahu atas dasar apa kita menyanjung dan memberikan pujian kepada Rusia. Rusia adalah pencuri yang masuk sebuah rumah, membakar harta benda yang ada di dalamnya dan membunuh penghuninya. Lantas pantaskan seorang pencuri mendapatkan pujian?”

    Sebuah ungkapan tulus dari seorang muslim terucap dari bibir Zia. Pembelaan dan sikap tegasnya tetap ia kedepankan walau pada saat itu para delegasi negara lainnya lebih memilih cari aman.

    Konspirasi Pembenci Islam

    Sudah dapat ditebak bahwa kemenangan demi kemenangan yang diraih mujahidin menimbulkan ketidaksukaan bagi musuh Islam. Orang-orang  sekuler pun merasa khawatir jika kepemimpinan Zia terus berlangsung maka Islam akan menjadi kuat dan menguasai dunia. Beberapa konspirasi pun mereka lakukan demi memutuskan tali kebangkitan Islam.

    Tekanan demi tekanan diberikan kepada Zia dengan cara peledakan bom di kota-kota. Dengan adanya ledakan ini rakyat Pakistan memojokkan Zia dan mendesak agar memulangkan para mujahidin ke negeri asalnya. Orang-orang sekuler berkomplot untuk memutus hubungan Zia dengan para pemimpin mujahidin.

    Hingga suatu hari, Zia mengumpulkan para pemimpin jihad di dalam sebuah pertemuan.  Dalam pertemuan itu ia menyampaikan, “Aku telah menoleh kepada orang-orang di sekelilingku, namun tidak saya dapati seorang musuh atau kawan pun yang berdiri di belakangku. Sementara, segala daya dan upaya telah aku curahkan hinggatak tersisa lagi. Pada akhirnya aku tidak mampu berbuat selain menandatangani perjanjian tersebut, karena Perdana Menteri Junejo dan Menteri Luar Negeri Nurani menekanku. Demikian pula 13 partai politik dari 15 yang ada turut menekanku. Mereka meledakkan bom di kota-kota untuk memojokkan posisiku di mata rakyat Pakistan. Mereka mendesak agar para Muhajirin dipulangkan ke negeri mereka, karena para Muhajirin Afghan itu menurut mereka menjadi faktor instabilisasi keamanan di negeri Pakistan.”

    Setelah Zia-ul Haq menyampaikan kesulitannya itu, Syaikh Sayyaf mengatakan, “Wahai saudaraku, engkau telah mengarungi perjalanan bersama kami sebagai seorang Muslim dan ksatria. Perjalanan yang luhur sejak delapan tahun yang lalu. Jika di sana ada tekanan dunia internasional terhadapmu, kami bisa memaklumi posisimu. Katakan saja pada kami, ‘Keluarlah kalian dari negeri kami, saya sudah tidak sanggup lagi, karena keberadaan kalian di negeri kami menimbulkan masalah yang tak mampu lagi kami pecahkan.’ Jangan sampai engkau menandatangani perjanjian penjualan negeri Afghanistan, kehormatannya, darah, dan jihadnya, serta melekatkannya pada sejarah (bangsa)mu. Katakan saja pada kami, maka kami akan keluar. Dengan demikian, bereslah. Engkau dapat udzur di hadapan dunia dan kami akan kembali ke negeri kami.” Mendengar kata-kata Sayyaf, hati Zia-ul Haq tersentuh karena ia adalah seorang yang teguh membela kebenaran.

    Putra Zia-ul Haq menuturkan, “Ayah saya pulang dalam keadaan sedih dan berduka. Malam itu mungkin ia tidak bisa tidur. Pagi harinya, ketika kami sajikan sarapan, ia tidak mau makan. Saya pun bertanya, ‘Ayah, apa yang membuatmu risau?’ Ia menjawab sambil mendesah, ‘Inilah pertama kali saya terpaksa menelantarkan (tidak memberi pertolongan) saudara-saudaraku Mujahidin . Saya tak sanggup .’

    Akhirnya Zia-ul Haq menandatangi Perjanjian Jenewa. Namun ia memberikan catatan sebagai ralat atas isi perjanjian tersebut. Ia mengatakan,

    “Pertama, tak mungkin selamanya saya mengusir Muhajirin Afghan dari Pakistan. Jika mereka rela keluar dengan keridhaan hatinya, maka biarlah mereka keluar.

    Kedua, saya tidak bisa memberikan jaminan kepada kalian bahwa peperangan akan berhenti di Afghanistan.” Setelah mengatakan demikian, beliau menandatangani perjanjian tersebut dan kemudian kembali ke negerinya.

    Junejo merasa sangat gembira karena Amerika, Barat, dan PBB menjanjikan pemberian hadiah “Nobel” padanya. Nobel adalah medali Perdamaian buatan Yahudi. Nobel ini hanya diberikan kepada orang yang telah berjasa kepada Yahudi. Naquib Mahfuzh diberi hadiah ini karena jasanya dalam merekatkan hubungan antara Israel dan Mesir. Ia menulis kisah yang penuh dengan celaan dan tikaman terhadap Islam berjudul “Anak-Anak Desa Kami.”

    Tatkala Junejo melihat Zia-ul Haq tidak ingin melaksanakan isi Perjanjian Jenewa, ia pun menekannya. “Saya akan mengangkat laporan yang menyatakan keenggananmu melaksanakan isi perjanjian itu ke PBB, Amerika, dan Rusia,” katanya.

    Zia-ul Haq mengatakan, “Saya tak sanggup hidup dalam keadaan hina dalam sisa hidup saya.” Kemudian ia berhenti dan berpikir lama. Selanjutnya ia mengatakan, “Tidak ada jalan lain selain memberi kesempatan kepada pemerintahan sipil.” Pada suatu malam ia mengumpulkan para anggota Majelis Syura dan menyampaikan pendapatnya kepada mereka, “Saya telah memutuskan akan mengganti bentuk pemerintahan dan Majelis Syura. Saya mengumumkan dua poin penting:

    Pertama, saya akan memberlakukan syariat Islam, meski hal itu membawa resiko terancamnya keselamatan keluarga, kedudukan, bahkan jiwa saya.

    Kedua, saya akan mendukung jihad Afghan sampai saya bisa melepaskan orang terakhir dari mereka dalam keadaan jaya, mulia, dan menang di pintu gerbang Khaibar.

    Aslam Khotak, Menteri Dalam Negerinya, mengemukakan pendapat, “Pihak Barat pasti akan menyingkirkanmu, Pak.” Zia-ul Haq berkata, “Saudaraku, sesungguhnya yang menentukan keputusan mati dan hidup ada di langit, bukan di bumi.”

    Konspirasi Wafatnya Zia

    Zia sudah mempunyai firasat bahwa tidak akan lama lagi dia akan disingkirkan. Musuh-musuh Islam tidak akan tinggal diam melihat Islam berkembang dan berjaya. Ia merasa bahwa pihak Barat telah membuat konspirasi untuk menyingkirkan dirinya. Kemudian ia mengumpulkan para pimpinan Mujahidin dan berkata kepada mereka, “Ini adalah masa-masa untuk melenyapkan saya dan kalian secara fisik. Saya tak tahu siapa yang bakal lebih dahulu menjumpai Allah.”

    Qadarullah, ternyata Zia yang lebih dahulu dipanggil oleh Allah. Pada ,17 Agustus 1988, Muhammad Zia ul-Haq menjadi korban dalam kecelakaan pesawat Hercules C-130 yang dinaikinya. Zia ul-Haq wafat bersama para pejabat, politisi, dan para jendral Pakistan yang mendukung para Mujahidin. Kecelakaan dekat Bhawalpur itu juga menewaskan Duta Besar Amerika Serikat untuk Pakistan.

    Kecelakaan ini disinyalir merupakan agenda konspirasi untuk menyingkirkan Zia. Barat tentu tidak rela jika kepemimpinan Islam kembali berjaya. Maka, dengan menghalalkan segala cara mereka membunuh Zia dan aparaturnya yang membela mujahidin. Selamat jalan Sang Jenderal,  ketegasanmu dalam membela Islam akan diwarisi pemimpin-pemimpin Islam di masa depan… Wallahu a’lam bi shawab.



    Penulis : Dhani El_Ashim

    Sumber : Kiblat.net

    Tarbiyah Jihadiyah jilid 11 karya syaikh Abdullah Azzam rahimahullah
    https://id.wikipedia.org/wiki/Zulfikar_Ali_Bhutto
    http://ikpmpakistan.blogspot.co.id
    http://www.risalah.tv
    https://en.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Zia-ul-Haq
    http://www.islamopediaonline.org/country-profile/pakistan/islam-and-legal-system/islamization-legal-system-under-general-zia-ul-haq-1

    No comments:

    Post a Comment