Menyajikan Informasi dan Inspirasi


  • News

    Tuesday, August 8, 2017

    Katakan Tidak! Untuk Debat

    Ada diantara penuntut ilmu yang giat belajar hanya karena ingin terlihat pintar dan piawai dalam berdebat. Ilmu yang dia miliki hanya untuk bekal berdebat antara sesama. Bukan untuk beramal, bukan pula untuk mendakwahkan kebaikan.

    Mendiskusikan ilmu itu baik dan penuh manfaat. Tapi memperdebatkannya amatlah buruk. Diskusi membukakan pikiran dan mendekatkan hati sesama penuntut ilmu. Adapun memperdebatkan ilmu, Imam Malik rahimahullah berkata, “Perdebatan tentang ilmu itu membuat hati keras dan menimbulkan kedengkian.”

    Karena jidal atau perdebatan timbul dari nafsu, kesombongan dan egoisme.
    Imam Syafi’i adalah adalah seorang ulama besar yang banyak melakukan dialog dan pandai dalam berdebat. Sampai-sampai Harun bin Sa’id berkata: “Seandainya Syafi’i berdebat untuk mempertahankan pendapat bahwa tiang yang pada aslinya terbuat dari besi adalah terbuat dari kayu niscaya dia akan menang, karena kepandaiannya dalam berdebat”.

    Imam Syafi’i berkata : “Aku tidak pernah berdebat untuk mencari kemenangan”

    Selain itu, kita juga dituntut untuk diam dan tidak melayani orang-orang yang suka mendebat kita. Apalagi jika tujuan dari perdebatan itu hanya untuk gagah-gagahan atau membahas hal-hal yang tidak berguna.
    Ada pepatah Imam Syafi’i  yang mengatakan,“Sikap diam terhadap orang yang bodoh adalah suatu kemuliaan. Begitu pula diam untuk menjaga kehormatan adalah suatu kebaikan”

    “Apakah kamu tidak melihat bahwa seekor singa itu ditakuti lantaran ia pendiam? Sedangkan seekor anjing dibuat permainan karena ia suka menggonggong?”

    Nasehat Imam Syafi’i yang lainnya  “Orang pandir mencercaku dengan kata-kata jelek, maka aku tidak ingin untuk menjawabnya. Dia bertambah pandir dan aku bertambah lembut, seperti kayu wangi yang dibakar malah menambah wangi”

    Bahkan, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri memberi apresiasi yang besar kepada orang yang meninggalkan perdebatan.

    “Aku akan menjamin sebuah rumah di dasar surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun dia berada dalam pihak yang benar. Dan aku menjamin sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam keadaan bercanda. Dan aku akan menjamin sebuah rumah di bagian teratas surga bagi orang yang membaguskan akhlaknya.” [HR. Abu Dawud dalam Kitab al-Adab, hadits no 4167)

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Tidak ada satu kaum yang tersesat setelah mendapat petunjuk, melainkan karena mereka suka berjidal.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca ayat: “Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yg suka bertengkar. (QS Az-Zuhruf [43]: 58 )” (HR. At-Tirmidzi no. 3253, Ibnu Majah dan Ahmad)

    Imam Malik rahimahullah, berkata:  “Berjidal adalah menghilangkan cahaya ilmu dan mengeraskan hati, serta menyebabkan permusuhan.” (Ibnu Rajab, Fadhlu Ilmi salaf ‘alal Khalaf: 35)

    Kesimpulannya perdebatan yang harus dihindari adalah perdebatan dengan orang-orang yang memperturutkan hawa nafsu.

    Firman Allah ta’ala yang artinya
    “Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah”.(QS Shaad [38]:26)

    “Katakanlah: “Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu, sungguh tersesatlah aku jika berbuat demikian dan tidaklah (pula) aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS An’Aam [6]:56)

    Ciri-ciri orang yang berdebat dengan memperturutkan hawa nafsu adalah

    1.  Suka mencerca dengan kata-kata jelek atau mencela

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “mencela seorang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekufuran”. (HR Muslim).

    Orang yang fasik adalah orang yang secara sadar melanggar larangan atau hukum agama, sebagaimana yang disampaikan dalam firman Allah ta’ala yang artinya, “(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS Al Baqarah [2]:27)

    Bagi orang-orang yang fasik, tempat mereka adalah neraka jahannam
    Firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan adapun orang-orang yang fasik maka tempat mereka adalah jahannam” (QS Sajdah [32]:20).

    2.  Suka debat kusir

    “Debat kusir” gabungan dua kata debat dan kusir
    Kusir adalah orang yang mengemudikan delman sehingga kalau seorang kusir berbicara maka akan membelakangi penumpangnya atau paling tidak menyamping

    Jadi debat kusir adalah debat yang “membelakangi” pendapat teman debat sehingga debat tak ada ujung akhirnya atau debat tidak berguna atau debat tidak nyambung atau debat tidak disertai alasan yang masuk akal.

    Mereka “membelakangi” pendapat teman debat atau mereka tidak menganggap pendapat teman debat atau bahkan dalam diskusi di dunia maya (internet) seperti jejaring sosial maupun forum-forum diskusi lainnya yang dilakukan dengan tulisan,  mereka sama sekali tidak membaca pendapat teman debat dikarenakan mereka beranggapan atau berprasangka bahwa pendapat teman debat bertentangan dengan ulama salaf.

    Kadang ada orang yang tidak bisa menghindar dari perdebatan karena takut dibilang tidak punya nyali alias penakut dan takut kalah. Lebih baik dikatakan penakut daripada menimbulkan kerusakan dan permusuhan.

    Mari sejenak kita renungi perkataan Imam Ahmad rahimahullah sebagaimana dinukil Ibnu Abdil Barr, “Tak akan pernah bahagia orang yang suka berdebat. Dan tidaklah engkau menjumpai seseorang yang suka berdebat kecuali di hatinya tersimpan sebuah penyakit.”

    Semoga kita terhindar dari jerat jidal.

    Disadur dengan perubahan dari mutiarazuhud.wordpress.com

    No comments:

    Post a Comment